Tampilkan postingan dengan label Renungan Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Sepakbola. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

Sebuah Renungan Bagi Pencinta Sepakbola Indonesia

Kisruh persepakbolaan Indonesia sepertinya sudah mencapai klimaksnya. Berbagai opini bermunculan sebagai bentuk pernyataan bahwa “sayalah sang pahlawan sepakbola Indonesia”. Mungkin terkesan berlebihan kalau dalam tulisan ini, penulis menyebutnya demikian, tetapi demikianlah kesimpulan yang terbaca saat ini oleh penulis melalui berbagai artikel ataupun berita pada berbagai media. Pihak yang berseteru dalam kancah persepakbolaan Indonesia ini masing-masing merasa sebagai “sang mesiah” persepakbolaan nasional dan melontarkan berbagai tudingan bahwa pihak yang lainnya sebagai penghancur sepakbola.
Pencinta sepakbola tanah air…..!
Melalui berbagai kisruh yang terjadi pada persepakbolaan nasional, banyak hal yang sebenarnya bisa kita petik sebagai bahan pelajaran. Sepakbola hanya sebagai alat bangsa untuk menunjukkan harkat dan martabat bangsa di dunia internasional. Tetapi, yang lebih penting daripada itu, sepakbola juga merupakan sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Sebaliknya, sebagai alat, sepakbola juga bisa menjadi sumber yang mempengaruhi keutuhan bangsa dan memecah belah bangsa ini menjadi berbagai golongan. Sepakbola dijadikan mesin politik bagi siapapun yang terlibat di dalamnya.
Pencinta sepakbola tanah air….!
Semua pihak yang terlibat dalam kekisruhan sepakbola ini, semuanya menggunakan berbagai peraturan dan hukum sebagai alasan untuk membenarkan kepentingannya. Masing-masing merasa menjadi pencinta aturan dan hukum dan menuduh pihak yang lainnya sebagai penjahat sepakbola. Pihak-pihak yang bertikai berusaha ber-adu argumen untuk melegalkan apa yang dilakukannya dengan menggunakan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, STATUTA, dan peraturan-peraturan yang lainnya yang berhubungan dengan olahraga dan sepakbola. Semua peraturan dinterpretasikan sesuai dengan keinginan masing-masing supaya golongannya disebut sebagai sang penyelamat sepakbola dari apa yang mereka sebut sebagai “tangan-tangan jahat yang bisa merusak citra permainan sepakbola”.
Pencinta sepakbola tanah air…….!
Tanpa kita sadari, sepakbola dijadikan sebagai sarana bagi sebagian golongan manusia yang lebih mencintai ambisi pribadi dan golongannya untuk mewujudkan keinginannya. Melalui sepakbola, masyarakat digiring untuk memiliki opini supaya cenderung kepada pihak tertentu dan menyudutkan pihak yang lainnya. Apakah kita tidak menyadari bahwa yang demikian merupakan politik “devide et impera” untuk memecah belah opini bangsa yang dilakukan oleh golongan yang justru lebih mencintai kekuasaan daripada keutuhan bangsanya sendiri.
Pencinta sepakbola tanah air…….!
Marilah kita tempatkan sepakbola pada tempat yang seharusnya, yaitu sebagai sarana untuk mempererat persatuan bangsa ini.
Marilah kita jadikan masa lalu sebagai bahan kajian untuk melakukan koreksi demi perbaikan persepakbolaan nasional yang bermartabat tanpa harus merusak tatanan bangsa.
Marilah kita melepaskan diri dari kecenderungan terhadap sesuatu golongan dan duduk bersama-sama mendiskusikan apa yang harus dilakukan demi kebaikan bangsa.
Dengan tetap melanggengkan perpecahan, tidak akan membawa bangsa ini menjadi lebih baik, dan tidak akan membuat sepakbola Indonesia menjadi lebih bermartabat. Justru, dengan adanya perpecahan, akan semakin merusak keutuhan bangsa, semakin merusak moral bangsa, bahkan akan membuat martabat bangsa hancur di mata dunia.
Terima Kasih.

Selasa, 10 September 2013

AYO INDONESIA BISA!!!

Suporter terbukti bukan hanya elemen pelengkap bagi Tim Sepakbola Indonesia. Lebih dari itu, suporter juga menjadi sumber kekuatan yang memberikan motivasi luar biasa bagi Skuad Garuda ataupun tim yang ada di Indonesia. Suporter pilar penting bagi Timnas Indonesia dan tim-tim yang ada di Indonesia yang mereka dukung. Tanpa kehadiran suporter, para pemain kehilangan pendongkrak motivasi untuk membantu memenangkan pertandingan. Sepakbola tanpa suporter bagai sayur tanpa garam, tidak fair apabila suatu pertandingan tidak dihadiri suporter dari tim yang bertanding meskipun terkadang ada rivalitas yang membuat suporter dilarang datang untuk menyaksikan tim kesayangannya karena alasan keamanan. Rivalitas di Indonesia yang terlalu "fanatis" dibilang bisa menjadi bumerang atau mencorengkan nama Indonesia karena ulah suporternya. Misal, seperti rivalitas antara Pasoepati(Solo Fans) dengan BCS,Slemania,Brajamusti,Maident(Jogja dan Sleman Fans), The Jak (Jakarta Fans) dengan Viking,Bobotoh(Bandung Fans), Aremania(Malang Fans) dengan Bonek(Surabaya Fans), dan bahkan Indonesia dengan Malaysia pun memiliki rivalitas jika kedua negara tersebut bertanding. Saling menunjukkan kreativitasnya, terkadang suporter menyayikan lagu yang saling mengejek. Tim yang kita dukung hanyalah membutuhkan dukungan kita 90 menit didalam stadion dengan tertib tanpa ada tindakan anarki, karena sejatinya tindakan anarki tersebut dapat menjadi tercorengnya nama Indonesia. Jika kebangkitan kembali tim sepakbola Indonesia bisa menjadi kunci perekat persatuan Bangsa Indonesia dan khususnya suporter yang masih tertutup akan fanatis buta, mengapa tidak kita dukung Timnas Garuda kita? Selain tentunya demi membalas jerih payah suporter yang tanpa lelah mendukung skuad Garuda/ tim yang di dukung beraksi. Demi tim sepakbola Indonesia, berbagai macam warna jersey kebanggaan ditanggalkan, suporter yang 'bermusuhan' bisa bersatu. Maka tak berlebihan rasanya berharap kebangkitan kembali Tim Sepakbola Indonesia demi melihat semangat kebersamaan Bangsa Indonesia menjadi semakin kuat. Berbagai acara digalang untuk mendukung Indonesia mendapatkan piala bergengsi di ajang sepakbola. Terakhir kali Indonesia memiliki piala saat tahun 1991 yaitu Seagames. Indonesia selalu menjadi langganan Runner-up, baik ditingkat Junior,Senior. Tak jauh, AFF 2010 menjadi harapan Indonesia untuk mendapatkan piala AFF tersebut. Menjadi tuan rumah harusnya Indonesia bisa memangkan AFF apalagi didukung puluhan ribu suporter-nya ketika bertanding di GBK,Jakarta. Bermain cukup baik selama penyisihan,perempat final,semifinal, -dan terakhir final berhadapan dengan Malaysia, leg pertama dikandaskan dengan skor 3-0 lalu di leg kedua hanya mampu menang 2-1 (kalah agregat), dugaan pengaturan skor sempat mencuat di media masa. Pada masa Nurdin Halid (eks ketua PSSI), memang dikenal jamannya pengaturan skor dimana-mana, bahkan hingga sekarang sepakbola Indonesia sudah makin menjalar, negara lain pun sama, seperti Italia,Ingggris sudah mulai,dll.Suporter Indonesia-lah yang sekarang diharapkan menjadi panutan bagi Indonesia agar bersikap santun saat pertandingan Indonesia melawan negara lain dengan bersifat tidak anarki, tidak membuat Indonesia terkena sanksi FIFA. Sudah saatnya suporter di Indonesia agar berdamai dan tidak terus . memperpanjang permusuhan ini, Banyak korban yang telah menjadi dampak akibat rivalitas ini. Mendukung tim kesayangan hanya cukup kita bernyanyi,bersorak,bergoyang di dalam stadion agar membuat tim yang kita dukung lebih termotivasi karena kita. Bahkan, pemain dari tim yang berivalitaspun memiliki perdamaian di lapangan. Ayo, kita sebagai suporter harusnya mencontoh pemain yang ada di lapangan hijau agar kita segera menuntaskan rivalitas ini dan agar tidak adanya korban lagi. 
AYO INDONESIA BISA!!!